Nihayah

SIDAK RSUD BLAMBANGAN


Banyuwangi,  Kamis 6 Januari 2016- Saya dan tim  inspeksi mendadak (SIDAK) di Rumah Sakit Blambangan.  Saya lebih memilih SIDAK daripada acara seremonial. Tujuannya, untuk mengetahui kondisi lapangan senyata-nyatanya. Dugaan saya tidak meleset. Banyak temuan lapangan menarik. Ada beberapa hal yang saya perhatikan.

Pertama, pelayanan di ruang instalasi apotik dan farmasi  masih lambat. Apoteker kurang sigap dan cepat dalam bekerja. Padahal, saat itu  pasien sangat banyak. Salah satu pasien mengatakan mereka sudah antri sejak pukul 09.30, saat saya menemui dia pukul 11.00, belum juga dilayani.  Artinya, kinerja apoteker harus dievaluasi. Mereka harus menunjukkan performa terbaik dengan bekerja lebih cepat dengan cara yang lebih ramah.

Kedua,  ruang server yang masih menjadi satu ruangan dengan operator. Padahal, menurut operator, idealnya, ada ruang sendiri untuk alat-alat server, terpisah dengan  operator. Operator seharusnya hanya satu ruang dengan monitor saja. Alasannya, alat-alat server itu butuh suhu tertentu yang sangat dingin. Suhu tubuh mereka tidak kuat mengimbangi suhu alat-alat server itu. Artinya, ketika menyediakan alat-alat harus juga dipersiapkan dengan baik cara merawatnya.

Ketiga, Medical record dari IT  masih sering  terjadi perbedaan antara input dan output. Ini terjadi karena Rumah sakit tidak memiliki SDM yang memadai untuk  medical record ketika menginput data. Yang harus diperhatikan kementerian maupun Pemda adalah bahwa setiap program pengadaan barang harus juga harus  dipersiapkan SDMnya.

Keempat, terdapat beberapa kekurangan di beberapa ruang. Misalnya, di lorong-lorong beberapa saluran air mampet , di beberapa ruangan AC rusak.  Selain itu,  di ruang bersalin juga terasa pengap karena kurangnya sinar matahari. Ruang NICU masih menjadi satu dengan ruang pemeriksaan dan perawatan bayi.

Kelima, ada beberapa keluhan para dokter. Mereka merasa  Kementerian Kesehatan kurang perhatian. Hal ini mereka rasakan dari kecilnya gaji yang mereka terima.  Mereka ingin ada standarisasi gaji  dokter. Selain itu, selama ini, dana yang dialokasikan BPJS untuk setiap pasien kurang untuk melayani pasien secara maksimal. Mereka juga menyatakan bahwa PEMDA belum mengalokasikan 10% untuk RS ini. Kota dengan APBD yang lumayan bagus dan sedang berkembang pesat dengan banyak permasalahan kesehatan seperti HIV-AIDS ternyata masih ogah-ogahan menginplementasikan anggaran kesehatan dengan semestinya.

Terakhir,  saya bertemu dengan seorang pasien yang terlantar. Kondisi pasien ini sudah membaik. Dia mengatakan seharusnya sudah bisa keluar dari rumah sakit.  Tetapi karena belum mampu melunasi biaya rumah sakit dan tidak punya BPJS, maka pihak rumah sakit menahannya.  Saya sempat bertanya tentang besarnya tanggungan ibu tersebut, untuk menebus biaya perawatan termasuk pengobatannya, tetapi pihak RS menolak. Mereka beralasan hal itu akan menjadi tanggung jawab  dinas sosial.

Seusai kami mempublikasikan temuan-temuan tersebut melalui FB dan Twitter, ada seorang wartawan yang langsung meminta klarifikasi tentang hal ini pada kepala RSUD.‘direktur RSUD berjanji perbaiki layanan’ Bapak Taufik telah berjanji akan melakukan berbagai perbaikan. Salah satunya, dia berjanji kalau akan memperbaiki mekanisme yang tidak lagi membuat pasien harus mengantri panjang dengan waktu yang sangat lama.

Untuk perbaikan pelayanan kesehatan, terutama di RS ini, saya akan menyampaikan temuan-temuan tersebut pada saat raker dengan Kemenkes dalam sidang nanti. Tentu, saya akan mendorong Kemenkes untuk melakukan perbaikan-perbaikan.

Berita tentang sidak ini telah dipublikasikan di link  anggota DPR RI Sidak RSUD Blambangan dan di link  disidak dokter malah senang

 

 




Nihayatul Wafiroh

Adalah anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) yang mewakili Daerah Pemilihan Jawa Timur III (Banyuwangi-Bondowoso-Situbondo). Saat ini juga dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal di Dewan Pengurus Pusat PKB. Aktif dalam Kaukus Perempuan Parlemen RI sebagai Wakil Sekretaris.