15095589_963390783794590_1533859041274025407_n

Maturnuwun Ibu dan Abah atas semuanya


Dalam disertasi saya, di lembar persembahan hanya saya tulis “For Dearest Mother, my inspiration, my hero, and my everything”. Ibu saya menikah ketika umur 13th dan memiliki anak saya umur 15th. Ketika umur 18th Ibu sudah harus menjadi pengasuh Pesantren putri karena Mbah Putri saya wafat. Sejak Saat itu Ibu yang menjadi komando di Pesantren Putri. Apakah dengan pendidikan hanya lulusan SD dan mondok hanya beberapa tahun plus tinggal di desa, Ibu saya Jadi perempuan yang kolot? Totally Tidak. Ibu saya adalah orang pembelajar, selalu Semangat belajar dimanapun dan kapanpun. Dari Ibu saya belajar tentang konsep tidak pernah menyerah. Dari Ibu saya membuka mata tentang pentingnya pendidikan. Dari Ibu saya memiliki prinsip untuk menyeimbangkan diri pada tiga hal yakni Keluarga, karir dan pengabdian pada masyarakat. Ibu bukan hanya Ibu saya tapi Ibu banyak orang. Ibu bagi saya adalah ujung spiritual yang tak tergantikan, untuk hal spiritual tidak ada yang lebih saya percaya kecuali Ibu. Saya tidak pernah melakukan istighoroh karena saya punya Ibu yang Sebagai final jawaban dari persoalan saya. Dalam situasi apapun saya tidak pernah Takut, karena saya punya Ibu yang tidak pernah berhenti mendoakan saya. Ibu juga jadi teman saya yang asyik, teman curhat, teman ngosip, teman diskusi untuk fashion, dan teman untuk shopping tentunya. Pesan Ibu tidak pernah berubah “Jaga diri dan Jaga sholat.” Dan ketika saya selesai ujian terbuka Ibu bilang “Entah berapa ribu fatihah tadi yang tak baca waktu dirimu ujian.”

Abah bagi saya adalah motivator ulung bagi Anak-anaknya. Abah tidak pernah berhenti utk terus menyemangati saya untuk Terus Sekolah dan tidak pernah menyerah dengan kondisi sulit apapun. Abah figure bagi kami untuk mendidik Anak-anak, Abah sangat keras namun juga penyayang. Dari Abah saya belajar tentang disiplin, dan kedisiplinan ini yang saya Terus pegang ketika bekerja dan menyelesaikan sekolah, saya tidak tau bagaimana nasib kuliah saya bila saya tidak disiplin mengatur waktu antara Kerja dan menulis disertasi. Dari Abah saya belajar untuk tidak pernah main-main dalam Sekolah. Abah Itu seperti sumbu untuk menyalakan api bagi saya dalam pendidikan. Abah jam berapapun saya berkirim sms dan mengeluh tentang beratnya pekerjaan dan Sekolah saya pasti akan membalas dengan kata-kata yang menenangkan. Abah selalu memantau Perkembangan Sekolah saya, menyuntik kan Semangat bagi saya dengan kata-kata beliau. Abah sosok yang sangat cerdas, saya dan adek-adek belum ada yang bisa menyeimbangi apalagi melampaui kecerdasan Abah. Abah yang meletakkan benih keberanian pada saya untuk berpetualang. Sejak kecil saya diajak keliling berbagai daerah dengan menggunakan angkutan umum, mengajarkan ke saya utk berani menjelajah. Keberanian Ini menjadi bekal saya pergi ke banyak Negara tanpa Ada rasa Takut. Abah selalu memiliki cara jitu untuk menumbuhkan rasa percaya diri saya, dan Itu menjadi modal saya ketika berada di masyarakat. Ketika saya keluar dari ruang ujian, Abah bilang “Aku Tadi waktu Kamu ujian rasanya Gak bisa Ngapa-ngapain, rasanya hanya pengen nangis.”

Maturnuwun Ibu dan Abah atas semuanya




Nihayatul Wafiroh

Adalah anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) yang mewakili Daerah Pemilihan Jawa Timur III (Banyuwangi-Bondowoso-Situbondo). Saat ini juga dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal di Dewan Pengurus Pusat PKB. Aktif dalam Kaukus Perempuan Parlemen RI sebagai Wakil Sekretaris.