whatsapp-image-2016-12-09-at-5-48-55-pm

KUNJUNGAN TIMWAS TKI DI TANJUNG PINANG


Melaksanakan kunjungan Timwas TKI di Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau. Tanjung Pinang menjadi salah satu tempat keberangkatan dan kepulangan TKI menuju Singapore atau Malaysia. Sayangnya dengan banyaknya TKI yang melewati tanjung Pinang dan Batam, petugas dan sarana prasarana yang mendukung masih dirasa kurang.

Selama ini, banyak TKI yang mengalami kehidupan yang tidak begitu baik di Malaysia. Mereka pulang dengan dalam kondisi kejiwaan yang tidak stabil. Sementara di Tanjung Pinang sendiri tidak terdapat Rumah Sakit Jiwa atau tempat khusus untuk menangani trauma atau rehabilitasi. Hal ini tentunya menyebabkan Pemprov kewalahan, dan bila ditemukan kasus gangguan kejiwaan pada TKI biasanya akan langsung diminta untuk dibawa ke Jakarta tanpa ada penanganan di lokasi terlebih dahulu. Untuk Itu saya merasa perlu untuk mendukung agar Tanjung Pinang segera memiliki RSJ ataupun tempat rehabilitasi, agar pasien dapat langsung ditangani tanpa harus menunggu untuk dibawa ke Jakarta. Pihak Pemprov saat ini juga sedang mempersiapkan pelayanan satu atap, mulai dari pengurusan KTP, Paspor dan Visa, untuk mempermudah TKI.

Dalam kesempatan ini saya juga mengunjungi Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) Tanjung Pinang. Saat ini RPTC Tanjung Pinang sedang dalam tahap pembangunan, sehingga belum memiliki ruang isolasi ataupun ruang rehabilitasi. Ada sekitar 100 orang laki-laki dan sekitar 20 perempuan yang sedang berada RPTC, dan mereka sedang bersiap-siap untuk dipulangkan ke Sumatera Utara. Sehari sebelumnya ratusan Purna TKI sudah dipulangkan ke Jawa, Sulawesi dan Jambi, sesuai dengan domisili di KTP masing-masing.

Dari cerita yang dituturkan oleh para TKI ini diketahui bahwa kebanyakan dari mereka pulang ke Indonesia dalam kondisi yang kurang baik. Mereka sebelumnya sempat di penjara di Malaysia dengan berbagai alasan. Menurut penuturan mereka, perlakuan polisi Malaysia di penjara sangat tidak manusiawi, hingga saat pulang mereka sudah tidak lagi memiliki harta benda.

Di kelompok TKW ada seorang ibu yang membawa satu orang anak, dan ibu yang lain dengan 3 orang anak. Sebelum pulang ke Indonesia mereka beserta anak-anaknya ditahan di penjara di Johor selama beberapa bulan dikarenakan persoalan dokumen. Saat ini pun mereka terpaksa berpisah dengan para suami mereka yang masih di penjara di Malaysia.

Seorang perempuan lain yang sedang hamil 5 bulan bercerita bahwa beliau sempat di penjara selama 3 bulan, padahal saat itu baru bekerja 5 bulan di Malaysia. Dalam kondisi Hamil 5 bulan ini, ibu yang sedang mengandung anak pertama ini harus berjauhan dengan suaminya, “Suami saya kemarin sudah dipulangkan ke Jambi, kami tidak bisa bersama-sama karena KTP saya Medan, dan suami memiliki KTP Jambi.”

Semoga dengan kunjungan ini menjadi koreksi bersama kedepannya untuk dapat memperbaiki layananan dan penanganan terhadap TKI yang membutuhkan. Juga saya berharap agar pemerintah memperkuat posisi Indonesia dalam memberikan perlindungan kepada TKI terutama di negara-negara tujuan para tenaga kerja asal Indonesia.

 

whatsapp-image-2016-12-09-at-5-48-59-pm whatsapp-image-2016-12-09-at-5-49-01-pm whatsapp-image-2016-12-09-at-5-49-05-pm whatsapp-image-2016-12-09-at-5-49-06-pm whatsapp-image-2016-12-09-at-5-49-09-pm-1 whatsapp-image-2016-12-09-at-5-49-09-pm-2 whatsapp-image-2016-12-09-at-5-49-09-pm whatsapp-image-2016-12-09-at-5-49-10-pm whatsapp-image-2016-12-09-at-5-49-25-pm whatsapp-image-2016-12-09-at-5-49-29-pm whatsapp-image-2016-12-09-at-5-49-30-pm




Nihayatul Wafiroh

Adalah anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) yang mewakili Daerah Pemilihan Jawa Timur III (Banyuwangi-Bondowoso-Situbondo). Saat ini juga dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal di Dewan Pengurus Pusat PKB. Aktif dalam Kaukus Perempuan Parlemen RI sebagai Wakil Sekretaris.